AS mengaku bahwa uang tersebut disimpan di dalam tas namun hilang saat berada di Sekretariat Desa Nipah Kuning.
Ternyata setelah diselidiki oleh pihak kepolisian, uang tersebut ternyata habis dipakai bermain judi online dan keperluan pribadi.
Kapolres Kayong Utara, AKBP Achmad Dharmianto, menyebutkan, kini pria berinisial AS tersebut telah diamankan pihak kepolisian.
Hasil mediasi tersebut, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kayong Utara membayarkan honor petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan Linmas yang diduga digelapkan oleh Ketua Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa Nipah Kuning dengan cara patungan menggunakan dana pribadi dan sekretariat KPU setempat.
“Ini menjadi kewajiban kami di KPU kabupaten, banyak anggota KPPS dan linmas yang sudah tidak tidur malam tapi belum menerima honor mereka, sehingga kami berinisiatif untuk patungan mulai dari komisioner dan sekretaris kita untuk membayarkan gaji petugas KPPS itu. Karena negara tidak akan membayarkan dua kali gaji KPPS itu, jadi kita harus bertanggungjawab,” kata Ketua KPU Kayong Utara Nur Mus Jaefah di Sukadana, Kamis (23/2) dikutip dair ANTARA.
Pihak KPU telah menyalurkan honorarium KPPS dan Linmas sebesar Rp82 juta kepada anggota KPPS di Desa Nipah Kuning secara langsung, dimana pembayaran tersebut lebih cepat dari batas akhir kesepakatan penyelesaian pembayaran yang disepakati bersama antara pihak KPU dan KPPS yaitu pada 27 Februari 2024.
Jaefah mewakili anggota KPU dan sekretariat meminta maaf kepada semua anggota KPPS Nipah Kuning yang mengalami kejadian yang merugikan mereka.
Dan apresiasi tinggi disampaikannya kepada polsek setempat dan Koramil telah memberikan dukungan penuh dalam proses mediasi sehingga tetap berjalan dengan aman dan damai.
“Terima kasih kepada pihak yang telah memberikan solusi dalam persoalan ini dan upaya semua pihak tetap menjaga kondusifitas,” tambahnya